Berawal dari sebuah obrolan singkat yang amat menarik dengan sahabatku di minggu malam, dia seorang lelaki bersahaja yang sangat cerdas ya menurutku mungkin juga menurut semua orang yang mengenalnya.
Malam itu ia datang dengan wajah yang sangat pucat, tapi guratan semangat itu tetap da dalam wajahnya, walaupun aku tahu begitu banyak cobaan yang ia hadapi, ia tersenyum begitu menyejukkan, menyapaku sama riangnya ketika dia baik-baik saja.
Ku peluk erat tubuhnya bukti betapa aku bangga menjadi sahabatnya, saat aku sangat butuh pertolongan dia orang pertama yang dengan senang hati menolongku dengan semua yang ia miliki. Aku berhutang separuh nyawaku padanya, tapi kini dia datang dengan tertunduk lesu….
Aku bertanya tentang kemalangannya walau tanpa ku tanyapun aku tahu apa yang terjadi padanya, karna aku ingin ia tahu aku peduli. ” Alloh hanya mengambil apa yang memang milik-NYA sedari awal” jawabnya begitu tenang, kalimat itu hanya akan datangĀ dari seorang setiap waktunya selalu berdzikr pada Rabb Pemilik jiwa hina ini
Seketika itu juga aku sadar bahwa kau pun harus siap dengan semua yang di putuskan oleh Alloh terhadap kehidupan ku baikkah atau burukkah itu. aku tersenyum, betapa bangganya aku memiliki sahabat seperti ini.
“Kri…kesehatan, harta, istri, anak, rumah, dan semua yang ada pada diri kita termasuk nyawaku ini kri, semua adalah milik Alloh… jikalau Dia inginkan nyawa ini 2 jam lagi untuk menghadap-Nya kri, pasti tak ada yang mampu mencegahnya, dan jikalau seluruh hartaku habis karna sebab apapun yang Alloh kehendaki pasti habislah kri. Ikhlas kri… ikhlas saja….jadikan ibadahmu harta yang amat kau cinta sahabat, Alloh pastiĀ akan membalasnya dengan sesuatu yang sangat indah”
Aku tahu air matanya menyatakan kesedihan yang sangat mendalam, tapi raut wajahnya nya itu menyatakan betapa tangguhnya ia. Ia telah berhasil menaklukkan dunia, seluruh harta dunia berkumpul padanya tapi tak menjadikannya buta, dunia tertunduk lesu melihat ketangguhanya dan ia pun kini bermahkotakan keikhlasan yang sangat indah, lebih indah dibandingkan emas permata.
Ahh… betapa kerdilnya diri ini yang sering kali menyombongkan diri di hadapan banyak orang, betapa hinanya diri ini menganggap harta dunia begitu indah dan sering membuatku lupa akan Hari pembalasan
“Barang siapa yang lebih mencintai dunia di bandingkan akhirat maka dunia akan terus berlari dan menjauh. dan barang siapa yang lebih mencintai Akhirat di bandingkan dunia maka dunia akan mendatanginya dengan merunduk-runduk” -Al-Hadist-

dieyna Berkata:
on Desember 4, 2009 at 2:40 am
………… merenung
komuter Berkata:
on Desember 4, 2009 at 8:43 am
mencerahkan sekali……
*menunduk
Widiya Ayu Rekti Berkata:
on Desember 17, 2009 at 4:32 am
Terus bermuhasabah agar tak tersilapkan dunia
Doa’kan saya juga ya….
alfarolamablawa Berkata:
on Desember 23, 2009 at 8:06 am
selamat siang….hehehe
belajar ikhlas itu memang sulit yah…..
heeem
Hanif Ilham M Berkata:
on Desember 27, 2009 at 3:57 am
wah, merenung sejenak, mungkin memang dosa telah lama ada di pundak ini,